Jumat, 23 Mei 2014

PIMPINAN HARUS PANDAI MENILAI PERBANDINGAN KINERJA DAN KOMPENSASI



Menurut Hasibuan (2009) asas kompensasi harus berdasarkan asas adil dan asas layak serta memperhatikan Undang-Undang Perburuhan yang berlaku.
a.       Asas Adil
Besarnya kompensasi harus sesuai dengan prestasi kerja, jenis pekerjaan, resiko pekerjaan, tanggung jawab, dan jabatan. Kompensasi tanpa menyesuaikan aspek –aspek diatas akan menggagalkan maksud dari kompensasi itu sendiri.
b.      Asas layak dan wajar
                         Suatu kompensasi harus disesuaikan dengan kelayakannya. Meskipun tolak ukur layak 

                         sangat relative, perusahaan dapat mengacu pada batas kewajaran yang sesuai dengan 

                         yang diterapkan oleh pemerintah dan aturan lain secara konsisten.


Mengacu pada pembayaran berdasar karyawan pada kinerjanya, karyawan dibayar berbeda dengan yang lainnya jika seorang karyawan mempunyai kinerja yang lebih baik dalam melakukan pekerjaan yang sama. Kontribusi karyawan merupakan kebijakan pengambilan keputusan yang penting karena secara langsung mempengaruhi sikap dan work behaviours seseorang.Jadi, ini merupakan perbandingan antar karyawan, atau insentif yang dibayar berdasar hasil penilaian kinerja.
 

Sabtu, 10 Mei 2014

PEMIMPIN ADALAH MELAYANI DAN BISA MENJADI CONTOH TIDAK HANYA PANDAI MEMERINTAH TAPI BISA MELAKSANAKAN DULU

Sifat kepemimpinan merupakan bakat dan bawaan seseorang sejak lahir. Tetapi dalam organisasi, kepemimpinan kerap dipandang secara struktural, sesuai dengan jenjang jabatan seseorang. Karena itu, seorang manajer pun, meskipun belum tentu memiliki bakat memimpin, harus bersikap layaknya seorang pemimpin yang baik agar dihormati. Mereka tak boleh lupa bahwa pemimpin memberikan contoh, dan gerak-geriknya diperhatikan oleh anak buahnya.

Dalam blog Harvard Business Review, Deborah Mills-Scofield, pemodal ventura serta konsultan strategi dan inovasi asal Amerika Serikat, menulis sebuah artikel menarik tentang kepemimpinan. Dia memaparkan empat pelajaran yang dia terima dari atasan-atasan terbaik yang pernah bekerja sama dengannya. Pelajaran-pelajaran itu adalah:

  • Pemimpin yang baik mendukung orang-orang berbakat yang ada dalam timnya.
    Ketika Anda menemukan talenta dalam diri anak buah, lakukan hal-hal untuk mendukung dan menyemangati mereka. Beri dia kesempatan untuk sukses dan bantu dia ketika gagal. Pemimpin yang baik berani mengambil risiko secara personal demi mengembangkan pribadi yang potensial.
  • Pemimpin yang baik menuntun anak buahnya mencapai passion-nya.
    Perhatikan anak buah Anda dan kenali passion-nya. Pastikan passion itu sejalan dengan tujuan organisasi. Beri dia tantangan dan kesempatan untuk berkarya. Berikan mereka pujian jika sukses, dan berikan nasihat jika ia gagal. Ketika anak buah gagal, pemimpin tidak takut untuk mengambil alih tanggung jawab.
  • Pemimpin yang baik selalu ingat bahwa anak buahnya adalah manusia, yang harus diperlakukan dengan baik.
    Banyak perusahaan memperlakukan karyawannya dengan baik. Misalnya dengan memberikan gaji dan tunjangan sesuai dengan haknya. Tetapi, terkadang mereka lupa memperlakukan karyawannya sebagai manusia. Berikan waktu bagi karyawan Anda untuk berlibur dan menghabiskan hak cutinya. Mereka membutuhkan refreshing. Selama mereka sedang berlibur, jangan ganggu mereka dengan urusan pekerjaan.
  • Pemimpin yang baik memberi kepercayaan kepada anak buah.
    Kepercayaan akan melahirkan tanggung jawab dan kerelaan dalam diri anak buah untuk belajar dan menyelesaikan pekerjaannya sebaik mungkin. Kepercayaan ini dapat melahirkan kredibilitas dan akuntabilitas dalam diri anak buah.

Deborah beruntung karena dia bisa mendapatkan pelajaran-pelajaran itu secara langsung dari orang-orang yang pernah menjadi atasannya. Bagaimana dengan Anda? Apa yang Anda pelajari dari atasan Anda, atau sebagai atasan, pelajaran apa yang ingin Anda sampaikan kepada anak buah?